Konflik Kamboja dan Pengaruh Perang Dingin di Asia Tenggara
Penelitian
DOI:
https://doi.org/10.70292/pchukumsosial.v4i1.308Keywords:
Konflik Kamboja, Perang Dingin, Khmer Merah, UNTACAbstract
Konflik Kamboja merupakan salah satu konflik paling kompleks di Asia Tenggara yang dipengaruhi oleh dinamika Perang Dingin antara blok Barat dan blok Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang konflik Kamboja, dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan negara, serta peran komunitas internasional dalam proses penyelesaian konflik. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif historis melalui studi literatur dari berbagai sumber akademik, seperti buku, jurnal ilmiah, dan artikel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik Kamboja tidak hanya dipicu oleh faktor internal berupa perebutan kekuasaan politik, tetapi juga oleh campur tangan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, Tiongkok, dan Vietnam yang berusaha memperluas pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara. Puncak konflik terjadi pada masa pemerintahan Khmer Merah (1975–1979) yang melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia, genosida, kerja paksa, dan pembunuhan massal yang menyebabkan sekitar 1,5 hingga 2 juta korban jiwa. Konflik tersebut juga menghancurkan sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur negara. Upaya perdamaian mulai tercapai melalui Perjanjian Damai Paris 1991 dan pembentukan United Nations Transitional Authority in Cambodia (UNTAC) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1992. Kehadiran UNTAC berhasil mendukung proses transisi politik, penyelenggaraan pemilu demokratis tahun 1993, serta rekonstruksi sosial dan ekonomi Kamboja. Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik Kamboja menjadi contoh nyata bagaimana persaingan geopolitik global dapat memengaruhi stabilitas regional serta pentingnya kerja sama internasional dalam mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi pascakonflik.













