Negosiasi Identitas Sosial Eks-Napiter dalam Menghadapi Stigma Masyarakat: Studi tentang Pengelolaan Kesan dan Reintegrasi Sosial
DOI:
https://doi.org/10.70292/pchukumsosial.v4i2.577Abstract
Reintegrasi sosial eks-narapidana terorisme (eks-napiter) menghadapi tantangan berat akibat stigma dan diskriminasi masyarakat yang belum sepenuhnya hilang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana eks-napiter menegosiasikan identitas sosialnya melalui strategi pengelolaan kesan (impression management) serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap keberhasilan reintegrasi sosial mereka. Penelitian ini melibatkan tiga orang eks-napiter klaster hijau (moderat, berikrar setia NKRI) serta pendamping yayasan di Provinsi Jambi sebagai informan penelitian. Permasalahan utama yang ditemukan meliputi adanya jarak sosial, pengawasan informal dari warga, penolakan ekonomi, serta beban emosional akibat pelabelan negatif. Melalui pendekatan kualitatif jenis fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis tematik Braun dan Clarke yang diintegrasikan dengan teori pengelolaan kesan Erving Goffman. Temuan utama menunjukkan bahwa eks-napiter secara aktif mengelola panggung depan (front stage) melalui perilaku pro-sosial, komformitas penampilan, keterbukaan terpilih (selective disclosure), dan humor, sementara panggung belakang (back stage / ranah keluarga) dimanfaatkan untuk pemulihan emosional. Selain itu, legitimator sosial seperti tokoh agama lokal, pamong desa, serta program pemberdayaan ekonomi menjadi faktor pemampu krusial dalam meluluhkan stigma publik. Kontribusi penelitian ini adalah tersedianya model empiris integratif yang menegaskan bahwa keberhasilan reintegrasi sosial memerlukan pendekatan seimbang antara strategi pengelolaan kesan individu dengan sistem dukungan sosial-ekonomi berbasis komunitas.













