Prinsip-Prinsip Al-Akhillā' Qs. Az-Zukhruf: 67 dan Relevansinya dalam Dinamika Perpolitikan: (Perspektif Sepuluh Mufassir dari Klasik Hingga Kontemporer)
Penelitian
DOI:
https://doi.org/10.70292/pchukumsosial.v4i1.297Keywords:
Al-Akhillā', QS. Az-Zukhruf: 67, Perpolitikan, Tafsir, MufassirAbstract
Penelitian ini mengkaji prinsip-prinsip al-akhillā' (persahabatan/pertemanan) dalam QS. Az-Zukhruf: 67 dan relevansinya dalam dinamika perpolitikan kontemporer berdasarkan perspektif sepuluh mufassir dari era klasik hingga kontemporer. Metode yang digunakan adalah tafsir maudhū'ī (tematik) dengan pendekatan komparatif lintas madzhab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-akhillā' dalam ayat tersebut memuat prinsip-prinsip fundamental: (1) loyalitas dibangun di atas nilai ketakwaan, bukan kepentingan duniawi; (2) persahabatan palsu berakhir dengan penyesalan di hari pembalasan; (3) hubungan politik yang tidak berlandaskan nilai-nilai rabbānī bersifat sementara dan merusak. Para mufassir klasik seperti al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, dan Ibn Kathīr menegaskan bahwa al-akhillā' yang sejati adalah persahabatan yang menghantarkan kepada ketaatan kepada Allah. Mufassir modern seperti Sayyid Quṭb, al-Sha'rāwī, dan Ibn 'Āshūr mengkontekstualisasikan ayat ini dalam realitas perpolitikan yang seringkali mengorbankan nilai moral demi pragmatisme kekuasaan. Relevansi ayat ini dalam dinamika perpolitikan tampak dalam kritik terhadap oligarki, koalisi transaksional, dan pengkhianatan kepercayaan publik.













